Showing posts with label memori belajar. Show all posts
Showing posts with label memori belajar. Show all posts

Monday, February 13, 2012

PENGEMBANGAN INSTRUMEN NON-TES


I.      PENDAHULUAN
Evaluasi sangat diperlukan dalam pendidikan formal, dalam hal ini sekolah atau madrasah. Khususnya evaluasi mengenai hasil belajar. Hal ini dimaksudkan untuk melihat tingkat kemampuan dan keberhasilan peserta didik dalam proses belajar.
Ada dua teknik yang digunakan untuk melakukan evaluasi hasil belajar yaitu teknik tes dan non tes. Untuk teeknik tes telah dijelaskan pada bab yang telah lalu. Maka, dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai instrument non-tes dan bentuk-bentuknya.

II.      RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Yang Dimaksud Dengan Evaluasi Non-Tes?
B.     Bagaimanakah Bentuk-Bentuk Evaluasi No-Tes?

III.      PEMBAHASAN
A.    Apa Yang Dimaksud Dengan Evaluasi Non-Tes?
Evaluasi non-tes merupakan penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan dengan tanpa ”menguji”  peserta didik, melainkan dilakukan dengan menggunakan pengamatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire) dan memeriksa atau meniliti dokumen-dokumen (documentary analysis).[1]
Instrument untuk memperoleh hasil belajar non-tes terutama dilakukan untuk mengukur hasil belajar yang berkenaan dengan soft skill, terutama yang berhubungan dengan apa yang dapat dibuat atau dikerjakan oleh peserta didik dari apa yang diketahui atau dipahaminya. Dengan kata lain, instrument seperti itu terutama berhubungan dengan penampilan yang dapat diamati dari pada pengetahuan dan proses mental lainnya yang tidak dapat diamati dengan panca indra. Selain itu, instrument seperti ini memang merupakan satu kesatuan dengan instrument lainnya, karena tes pada umumnya mengukur apa yang diketahui, dipahami atau yang dapat dikuasai oleh peserta didik dalam tingkatan proses mental yang lebih tinggi. Akan tetapi, belum ada jaminan bahwa mereka memiliki mental itu dalam mendemonstrasikan dalam tingkah lakunya. Dengan demikian, instrument non-tes merupakan bagian dari alat ukur hasil peserta didik.[2]

B.     Bagaimanakah Bentuk-Bentuk Evaluasi Non-Tes?
Untuk menilai aspek tingkah laku, jenis non-tes lebih sesuai digunakan sebagai alat evaluasi. Seperti menilai aspek sikap, minat, perhatian, karakteristik, dan lainnya yang mencakup segi afektif dan psikiomotorik. Sedangkan bentuk-bentuk teknik non-tes yang bisa digunakan adalah:
1.      Wawancara (interview)
Wawancara adalah komunikasi langsung antara yang mewancarai dan yang diwancarai.[3] Secara umum, yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan keterangan yang dikakukan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapan muka dan dengan arah serta tujuan yang telah ditentukan.
Ada dua jenis wawancara yang dapat dipergunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:
a.       Wawancara terpimpin (guided interview), yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara berstruktur (structured interview) atau wawancara sistematis (systematic interview), yaitu wawancara yang dilakukan oleh evaluator dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun terlebih dahulu. Jadi, dalam hal ini responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah disediakan oleh evaluator.[4]
b.      Wawncara tidak terpimpin (un-guided interview), yang sering dikenal dengan istlah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara tidak sistematis (non-systematic interview) atau wawancara bebas, diamana responden mempunyai kebebasan untuk mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh patokan-patokan yang telah dibuat oleh evaluator. Dalam wawancara bebas, pewancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik atau orang tuanya tanpa dikendalikan oleh pedoman tertentu, mereka dengan bebas mengemukakan jawabannya. Hanya saja pada saat menganilis dan menarik kesimpulan hasil wawancara bebas ini evaluator akan dihadapkan kesulitan-kesulitan, terutama apabila jawaban mereka beraneka ragam. Mengingat bahwa daya ingat manusia itu dibatasi ruang dan waktu, maka sebaiknya hasil wawancara itu dicatat seketika.[5]
Tujuan wawancara adalah sebagai berikut:
a)      Untuk memperoleh informasi secara langsung guna menjelaskan suatu hal atau situasi dan kondisi tertentu
b)      Untuk melengkapi suatu penyelidikan ilmiah
c)      Untuk memperoleh data agar dapat mempengaruhi situasi atau orang tertentu
Dalam wawancara terdapat kelebihan dan kelemahan. Diantara kelebihannya adalah:
a)      Pewancara sebagai evaluator (dalam hal ini guru, dosen dan lain-lain) dapat berkomunikasi secara langsung, dengan peserta didik, sehingga informasi yang diperoleh dapat diketahui objektivitasnya, juga dapat diperoleh hasil penilaian yang lebih lengkap dan mendalam
b)      Pelaksanaan wawancara lebih fleksibel, dinamis, dan personal
c)      Data dapat diperoleh baik dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif
d)     Dapat memperbaiki proses dan hasil belajar
Sedang di antara kelemahan dari wawancara:
a)      Jika jumlah peserta didik cukup banyak, maka proses wawancara banyak menggunakan waktu, tenaga, dan biaya
b)      Adakalanya wawancara terjadi berlarut-larut tanpa arah, sehingga data kurang dapat memenuhi apa yang diharapkan
c)      Sering timbul sikap kurang baik dari peserta didik yang diwancarai dan sikap overaction dari guru sebagai pewawancara, karena itu perlu adanya adaptasi diri antara pewancara dengan orang yang diwawancarai.[6]

2.      Pengamatan (observation)
observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis, logis, objektif dan rasional terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sebagai sasaran pengamatan.[7] Alat yang digunakan dalam observasi disebut pedoman observasi
Tujuan utama observasi adalah:
a)      Untuk mengumpulkan data dan inforamsi mengenai suatu fenomena, baik yang berupa peristiwa maupun tindakan, baik dalam situasi yang sesungguhnya maupun dalam situasi buatan
b)      Untuk mengukur perilaku kelas (baik perilaku guru maupun peserta didik), interaksi antara peserta didik dan guru, dan faktor-faktor yang dapat diamati lainnya, terutama kecakapan sosial (social skill)
Dalam evaluasi pembelajaran, observasi dapat digunakan untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik pada waktu belajar belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, dan lain-lain. Selain itu, observasi juga dapat digunakan untuk menilai penampilan guru dalam mengajar, suasana kelas, hubungan sosial sesama, hubungan sosial sesama peserta didik, hubungan guru dengan peserta didik, dan perilaku sosial lainnya
Observasi mempunyai beberapa karakteristik, antara lain:
a.       Mempunyai arah dan tujuan yang jelas. Hal ini  dimaksudkan agar pelaksanaan observasi tidak menyimpang dari permasalahan. Oleh karena itu, dalam pelaksanaannya evaluator harus menggunakan alat yang disebut dengan pedoman observasi.
b.      Bersifat ilmiah, yaitu dilakukan secara sistematis, logis, kritis, objektif, dan rasional.
c.       Terdapat berbagai aspek yang akan diobservasi.
d.      Praktis penggunaannya.
Dilihat dari kerangka kerjanya, observasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a.       Observasi berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai observer telah ditetapkan terlebih dahulu berdasarkan kerangka kerja yang berisi faktor yang telah diatur kategorisasinya. Isi dan luas materi observasi telah ditetapkan dan dibatasi dengan jelas dan tegas.
b.      Observasi tak berstruktur, yaitu semua kegiatan guru sebagai obeserver tidak dibatasi oleh suatu kerangka kerja yang pasti. Kegiatan obeservasi hanya dibatasi oleh tujuan observasi itu sendiri.
Apabila dilihat dari teknis pelaksaannya, observasi dapat ditempuh melalui tiga cara, yaitu:
a.       Observasi langsung, observasi yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang diselidiki.
b.      Observasi tak langsung, yaitu observasi yang dilakukan melalui perantara, baik teknik maupun alat tertentu.
c.       Observasi partisipasi, yaitu observasi yang dilakukan dengan cara ikut ambil bagian atau melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti.
Sebagai instrumen evaluasi yang lain, observasi secara umum mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan observasi antara lain:
·         Observasi merupakan alat untuk mengamati berbagai macam fenomena.
·         Observasi cocok untuk mengamati perilaku peserta didik maupun guru yang sedang melakukan suatu kegiatan.
·         Banyak hal yang tidak dapat diukur dengan tes, tetapi lebih tepat dengan observasi.
·         Tidak terikat dengan laporan pribadi.
Adapun kelemhan dari observasi adalah:
·         Seringkali pelaksanaan observasi terganggu oleh keadaan cuaca, bahkan ada kesan yang kurang menyenangkan dari observer ataupun observasi itu sendiri.
·         Biasanya masalah pribadi sulit diamati.
·         Jika yang diamati memakan waktu lama, maka observer sering menjadi jenuh.
Adapaun langkah-langkah penyusunan pedoman observasi adalah sebagai berikut:
1.      Merumuskan tujuan observasi
2.      Membuat lay-out atau kisi-kisi observasi
3.      Menyusun pedoman observasi
4.      Menyusun aspek-aspek yang akan diobservasi, baik yang berkenaan proses belajar peserta didik dan kepribadiaanya maupun penampilan guru dalam pembelajaran
5.      Melakukan uji coba pedoman observasi untuk melihat kelemahan-kelemahan pedoman observasi
6.      Merifisi pedoman obsevasi berdasarkan hasil uji coba
7.      Melaksanakan observasi pada saat kegiatan berlangsung
8.      Mengolah dan menafsirkan hasil observasi[8]
3.      Angket (questionnaire)
angket juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara, dimana penilai (evaluator) berhadapan secara langsung (face to face) dengan peserta didik atau dengan pihak lainnya, maka dengan menggunakan angket, pnegumpulan data sebagai bahan penilai hasil belajar jauh lebih praktis, menghemat waktu dan tenaga. Hanya saja, jawaban yang diberikan seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang sebanarnya.[9]
Pada umunya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganilisis tingkah laku dan proses belajar mereka. Disamping itu, juga dimaksudkan untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan progam pembelajaran.
Data yang dapat dihimpun melalui kuesioner, misalnya adalah data yang berkenaan dengan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh para peserta didik dalam proses pembelajaran, cara belajar, fasilitas belajar, bimbingan belajar, motivasi dan minat belajar, sikap belajarnya, sikap terhadap mata pelajaran tertentu, pandangan siswa terhadap mata pelajaran tertentu, pandangan siswa terhadap proses pembelajaran dan sikap mereka terhadap guru.
Kuesioner sering digunakan untuk menilai hasil belajar ranah afektif. Ia dapat berupa kuesioner bentuk pilihan ganda (mutiple choice item) dan dapat pula berbentuk skala sikap. Skala yang mengukur sikap, sangat terkenal dan sering digunakan untuk mengungkap sikap peserta didik adalah skala likert.[10]
Kuesioner sebagai alat evaluasi juga sangat berguna untuk mengungkap latar belakang orang tua peserta didik maupun peserta didik sendiri, dimana data yang telah diperoleh melalui kuesioner itu pada suatu saat akan diperlukan, terutama apabila terjadi kasus-kasus tertentu yang menyangkut dari peserta didik.[11]
4.      Study Kasus (case study)
Studi kasus adalah mempelajari individu dalam proses tertentu secara terus menerus untuk melihat perkembangannya.[12] Misalnya peserta didik yang sangat cerdas, sangat lamban, sangat rajin, sangat nakal, atau kesulitan dalam belajar. Untuk itu guru menjawab tiga percayaan inti dalam studi kasus, yaitu:
a.       Mengapa kasus tersebut bisa terjadi?
b.      Apa yang dilakukan oleh seseorang dalam kasus tersebut?
c.       Bagaimana pengaruh tingkah laku seseorang terhadap lingkungan?
Studi kasus sering digunakan dalam evaluasi, bimbingan, dan penelitian. Studi ini menyangkut integrasi dan penggunaan data yang komprehensif tentang peserta didik sebagai suatu dasar untuk melakukan diagnosis dan mengartikan tingkah laku peserta didik tersebut. Dalam melakukan studi kasus, guru harus terlebih dahulu mengumpulkan data dari berbagai sumber dengan menggunakan berbagai teknik dan alat pengumpul data. Salah satu alat yang digunakan adalah depth-interview , yaitu melakukan wawancara secara mendalam, jenis data yang diperlukan antara lain, latar belakang kehidupan, latar belakang keluarga, kesanggupan dan kebutuhan, perkembangan kesehatan, dan sebagainya.
Namun, seperti halnya alat evaluasi yang lain, studi kasus juga mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya adalah dapat mempelajari seseorang secara mendalam dan komprehensif, sehingga karakternya dapat diketahui selengkap-lengkapnya. Sedangkan kelemahannya adalah hasil studi kasus tidak dapat digeneralisasikan, melainkan hanya berlaku untuk peserta didik itu saja.[13]
5.      Pemeriksaan Dokumen (documentary analysis)
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik non-tes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen, misalnya: dokumen yang menganut informasi mengenai riwayat hidup (auto biografi), seperti kapan kapan dan dimana peserta didik dilahirkan, agama yang dianut, kedudukan anak didalam keluarga dan sebagainya. Selain itu juga dokumen yang memuat informasi tentang orang tua peserta didik, dokumen yang memuat tentang orang tua peserta didik, dokumen yang memuat tentang lingkungan non-sosial, seperti kondisi bangunan rumah, ruang belajar, lampu penerangan dan sebagainya.
Beberapa informasi, baik mengenai peserta didik, orang tua dan lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkapbagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya.[14]

IV.      KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapatlah disimpulkan, bahwa dalam rangka evaluasi hasil belajar peserta didik itu tidak hanya dapat dilakukan dengan menggunakan alat berupa tes-tes hasil belajar. Teknik-teknik non-tes juga menempati kedudukan yang penting dalam rangka evaluasi hasil belajar, lebih-lebih evaluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peserta didik, seperti presepsinya terhadap mata pelajaran tertentu, prsepsi terhadap guru, bakat dan minat, dan sebagainya. Yang semua itu tidak mungkin dievaluasi dengan menggunakan tes sebagai alat pengikutnya.
Diantara bentuk-bentuk instrumren evaluasi non-tes adalah wawancara (interview), pengamatan (observation), angket (questionere), studi kasus, dan pemeriksaan dokumne (documentary analysis).

V.      PENUTUP
Demikian makalah mengenai konstruksi instrument evaluasi non-tes dan bentuk-bentuknya yang dapat pemakalah sajikan. Namun, pemakalah juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik yang konstruktif sangat pemakalah harapan demi perbaikan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca yang budiman.




DAFTAR PUSTAKA
Sudijono,Anas, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 76
Widoyoko,S. Eko Putra, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Didik, (Yogyakarta: Pustaka Belajar: 2009), hlm. 104
Djamarah,Syaiful Bahri, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000
Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008), cet V, hlm. 33
Arifin,Zaenal, Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009)


[1] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 76
[2] S. Eko Putra Widoyoko, Evaluasi Program Pembelajaran: Panduan Praktis Bagi Pendidik dan Calon Didik, (Yogyakarta: Pustaka Belajar: 2009), hlm. 104
[3] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: PT. Rineka Cipta), hlm. 220
[4] Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2008), cet V, hlm. 33
[5] Anas Sudijono, Op. Cit, hlm. 84
[6] Zaenal Arifin, Evaluasi Pembelajaran: Prinsip, Teknik, Prosedur, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 158
[7] Ibid, hlm. 76
[8] Zaenal Arifin, Ibid, hlm. 153-156
[9] Anas Sudijono, Ibid, hlm. 84
[10] Ibid. hlm. 85
[11] Ibid, hlm. 88
[12] Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit, hlm. 223
[13] Zaenal Arifin, Op. Cit, hlm. 168-169
[14] Anas Sudijono, Op. Cit, hlm. 90




baca juga makalah tentang pendidikan lainnya, 
Proses Belajar,,perhatian, memorym elaborasi, dan problem solving

Friday, February 10, 2012

PROSES BELAJAR (PERHATIAN, MEMORI, ELABORASI, BERPIKIR DAN PROBLEM SOLVING)




I.          PENDAHULUAN
Salah satunya untuk meningkatkan mutu pendidikan disekolah ialah dengan cara melalui perbaikan proses belajar mengajar. Berbaai konsep dan wawasan baru tentang proses belajar mengajar di sekolah telah muncul dan berkembang seiringnya pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Guru sebagai personel yang menduduki posisi strategis untuk terus mengikuti berkembangnya konsep-konsep baru dalam dunia pengajaran tersebut.
Demikianlah pula para supervisor pendidikan, pengawas, pemilik dan pengelola lembaga pendidikan seyogianyalah selalu mengikuti perkembangan itu. Maka dari itu sangat penting untuk memahami proses belajar yang baik dan pasti agar peserta didik yang di ajar mendapatkan apa yang dia inginkan dan pengajar juga mendapatkan apa yang ia terapkan.

II.          RUMUSAN MASALAH
1.    Apa  yang dimaksud dengan Pengertian Proses Belajar?
2.    Apa Hubungan Perhatian, Memori, Elaborasi, Berpikir dan Problem Solving dalam Proses Belajar?

III.          PEMBAHASAN
1.    Apa  yang dimaksud dengan Pengertian Proses Belajar?
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Menurut Chaplin (1972), proses adalah Any change in any object or organism, particularly a behavioral or psychological change. (proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan).[1]
Belajar menurut Harold Spears (1955.p 94) adalah Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. (belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri tentang sesuatu, mendengarkan, mengikuti petunjuk) aktifitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya.[2]
Jadi, proses belajar dapat diartikan sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif, dan psikiomotorik yang terjadi dalam diri seseorang. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang maju daripada keadaan sebelumnya.

2.    Apa Yang Dimaksud Perhatian, Memori, Elaborasi, Berpikir dan Problem Solving?
Perhatian (attention) yaitu sebagai salah satu aktifitas psikis, menurut (A. Gazali, 1970:116), perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada suatu sekumpulan obyek.[3] Misalnya: seseorang sedang memerhatikan suatu benda, ini berarti seluruh aktifitas individu dicurahkan atau dikonsentrasikan pada benda tersebut.
Memori (ingatan) menurut Dakir, 1973:91 yaitu daya untuk memahamkan, menyimpan, dan memproduksi kembali kesan-kesan yang telah dialami. Dalam definisi lain Verbeek, 1972:6 mengatakan ingatan adalah suatu aktifitas di mana manusia menyadari bahwa pengetahuannya berasal (berdasarkan kesan-kesan) dari masa lampau.[4] Dengan demikian, apa yang diingat oleh seseorang berupa suatu kejadian yang pernah dialami dan dimasukkan dalam alam kesadaran, kemudian disimpan dan pada suatu ketika kejadian itu ditimbulkan kembali atas kesadaran.
Berpikir adalah proses dinamis yang dapat dilukiskan menurut prosesnya. Yaitu: pembentukan pengertian, pembentukan pendapat, penarikan kesimpulan.[5] Ada definisi lain tentang berpikir yaitu berkembangnya ide dan konsep didalam diri seseorang (Bochenski, dalam suriasumanturi. ed, 1983:52).[6] Perlu diketahui, bahwa kemampuan berpikir manusia alamiah sifatnya, artinya ketika manusia dilahirkan dengan keadaan normal maka dengan sendirinya memiliki kemampuan berpikir yang relatif berbeda dengan manusia yang lahir dalam keadaan abnormal.
Problem Solving adalah pemecahan masalah, yang dimaksud pemecahan masalah disini yaitu ketika didalam kelas atau menangani siswa terdapat kendala dalam proses belajar, maka bagaiamana pengajar mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut. Kretivitas inilah sebagai kemampuan dasar Creative Problem Solving,  kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, berupa gagasan maupun karya nyata dalam bentuk ciri-ciri aptitude maupun non aptitude dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada.[7] Kreatifitas memiliki nilai penting dalam kehidupan. Dengan demikian, seseorang dapat melakukan pendekatan secara bervariasi dengan bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu percobaan.
Elaborasi, merupakan kegiatan proses pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada peserta didik dalam menuju tercapaianya tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Alwi Suparman (1999:57) bahwa elaborasi merupakan strategi pembelajaran perpaduan perpaduan dari urutan kegiatan dan cara pengorganisasian materi pelajaran, peserta didik, peralatan, bahan serta waktu yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[8]
Menurut Dick dan Carrey dalam Sujarwo (2003) elaborasi adalah suatu pendekatan dalam mengelola secara sistematis kegiatan pembelajaran sehingga sasaran didik dapat mencapai isi pembalajaran atau tujuan seperti yang diharapkan. Strategi instruksional memiliki empat komponen, sebagai berikut: 1) kegiatan pra instruksional, penyajian informasi, 2) partsisipasi peserta didik, 3) tes, dan 4) tindak lanjut. Akan tetapi berbeda dengan Gagne dan Briggs dalam Alwi Suparman (1995:156) mengemukakan sembilan untuk kegiatan instrusional, yaitu: 1) memberikan motivasi, atau menarik perhatian, 2) menjelaskan tujuan instruksional kepada peserta didik, 3) mengingatkan kompetensi prasyarat, 4) memberi stimulus (masalah, topik dan konsep), 5) memberikan petunjuk belajar, 6) menentukan penampilan peserta didik, 7) memberi umpan balik, 8) menilai penampilan, 9) menyimpulkan.[9]

IV.          KESIMPULAN
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”. Kata ini mempunyai konotasi urutan langkah atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan. Belajar menurut Harold Spears (1955.p 94) adalah Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. (belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sendiri tentang sesuatu, mendengarkan, mengikuti petunjuk) aktifitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya.
Perhatian merupakan pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktifitas individu yang ditujukan kepada suatu sekumpulan obyek.
Memori (ingatan) menurut Dakir, 1973:91 yaitu daya untuk memahamkan, menyimpan, dan memproduksi kembali kesan-kesan yang telah dialami.
Berpikir adalah proses dinamis yang dapat dilukiskan menurut prosesnya. Problem Solving adalah pemecahan masalah, yang dimaksud pemecahan masalah disini yaitu ketika didalam kelas atau menangani siswa terdapat kendala dalam proses belajar, maka bagaiamana pengajar mencari solusi untuk memecahkan masalah tersebut.
Elaborasi, merupakan kegiatan proses pembelajaran yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas kepada peserta didik dalam menuju tercapaianya tujuan yang telah ditetapkan.
V.          PENUTUP
Demikianlah makalah ini yang dapat penulis buat, penulis menyadari isi dari makalah ini belum mampu dikatakan sempurna, oleh karena itu kritik dans aran yang konstruktif dari pembaca sangat penulis harapkan untuk menyempurnakan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi kita semua umumnya, amin.
DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibin, , Psikiologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010
Diktat Psikiologi Pendidikan Oleh Drs. H. Mustaqim, M. Pd (Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2009)
Drs. H. Baharudin, M. Pdi, Psikiologi Pendidikan, (Yogyakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2010),
Drs. B. Suryosubroto, Prsoses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009)


[1] Dr. Muhibin Syah, M.Ed, Psikiologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010, hlm. 17
[2] Diktat Psikiologi Pendidikan Oleh Drs. H. Mustaqim, M. Pd (Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2009), hlm. 39
[3] Drs. H. Baharudin, M. Pdi, Psikiologi Pendidikan, (Yogyakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2010), hlm. 178
[4] Ibid, hlm. 111
[5] Op. Cit, hlm. 58
[7] Drs. B. Suryosubroto, Prsoses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), hlm. 191
[8] Ibid, hlm. 195